Sultan Agung
Tokoh Jawa Tengah
Raja Mataram 1613–1645, yang menyatukan penanggalan Jawa dengan penanggalan Islam pada 1633, mengepung Batavia dua kali tanpa berhasil, dan yang pemerintahannya menjadi ukuran yang dipakai keraton sesudahnya untuk menilai diri.
Satu penanggalan yang dibuat dari dua
Pada 1633 Sultan Agung menetapkan penanggalan yang menggabungkan penanggalan Saka yang berdasarkan matahari dan penanggalan Hijriah yang berdasarkan bulan: bilangan tahunnya dilanjutkan dari angka Saka yang berjalan — sehingga tahun itu menjadi 1555 dan bukan 1 — sementara panjang bulan dan tahunnya mengikuti perhitungan bulan.
Akibatnya adalah penanggalan yang bilangan tahunnya lebih tua daripada Hijriah dan iramanya sama dengan Hijriah, sehingga hari besar Islam jatuh pada tanggal yang sama dan tarikh Jawa tidak terputus. Keputusan itu adalah keputusan pemerintahan dan bukan keputusan keagamaan semata: ia menyatakan bahwa yang datang tidak menghapus yang ada.
Penanggalan ini masih dipakai. Nama bulannya — Sura, Sapar, Mulud, dan seterusnya — adalah nama bulan Arab yang disesuaikan, dan rangkaian upacara keraton serta banyak selamatan desa dihitung dengannya. Ia juga berjalan berdampingan dengan pekan lima hari pasaran, dan gabungan keduanya menghasilkan siklus tiga puluh lima hari selapan yang menjadi dasar penghitungan hari baik.
Dua pengepungan yang gagal, dan satu makam
Sultan Agung mengepung Batavia pada 1628 dan 1629 dan gagal pada keduanya. Kegagalan kedua sebagian disebabkan pemusnahan lumbung padi Mataram di Tegal dan Cirebon oleh kapal Belanda, sehingga pasukan yang mengepung kehabisan bekal; keterangan tersebut berasal dari arsip VOC dan tidak dari babad, yang menyusun kegagalan itu dengan cara lain.
Perbedaan penyusunan itu patut diperhatikan. Babad Jawa cenderung menerangkan kekalahan melalui pengkhianatan, kelalaian pada syarat, atau kehendak yang lebih tinggi, dan bukan melalui logistik. Kedua jenis sumber itu tidak sedang menjawab pertanyaan yang sama, dan membaca yang satu untuk mengoreksi yang lain menghasilkan gambaran yang timpang ke arah mana pun.
Sultan Agung dimakamkan di Imogiri, pemakaman yang dibangunnya sendiri di bukit selatan Yogyakarta dan yang masih menjadi pemakaman dua keraton pewaris Mataram. Tata masuk ke pemakaman itu — pakaian, urutan, dan larangan — masih berlaku, dan pemakaian yang berlanjut ini menjadikan Imogiri salah satu tempat tempat susunan keraton dapat diamati sedang bekerja dan bukan sedang dipamerkan.
Entri penuh 3 / 3
2 bagian, 4 sumber, satu di antaranya primer.
Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.