Melayu Betawi
Bahasa Melayu-Polinesia
Menyusut
Bentuk nama lain dan yang ditolak
Bentuk yang ditolak tetap dapat dicari agar sumber lama tetap dapat ditemukan, tetapi tidak pernah dipakai dalam kalimat entri.
Ragam Melayu yang terbentuk di Batavia dari bahasa perantara para pendatang, dengan pinjaman Hokkien, Portugis, Belanda, Jawa, Sunda, dan Bali, dan yang ciri-cirinya kemudian masuk ke dalam bahasa Indonesia percakapan di seluruh negeri.
Menyebar tanpa penuturnya
Ciri paling dikenal ragam ini — akhiran -in menggantikan -kan, vokal é pada akhir kata seperti ape dan kenape, kata ganti gue dan lu yang keduanya dari Hokkien — kini terdengar di seluruh Indonesia, dipakai oleh penutur yang tidak menyebut dirinya Betawi dan tidak pernah tinggal di Jakarta. Penyebaran itu berlangsung melalui film, sinetron, dan kemudian media sosial.
Akibatnya perlu dinyatakan dengan hati-hati: yang menyebar adalah sejumlah ciri, bukan bahasanya. Ragam Betawi yang penuh, dengan perbendaharaan kata dan tata bahasanya sendiri, dituturkan di kampung Betawi dan menyusut bersama kampung itu. Kedua kenyataan itu kerap tertukar, sehingga bahasa ini dianggap sedang menguat padahal yang menguat adalah pinjamannya.
Sahibul hikayat, palang pintu, dan pusat yang berpindah
Dua bentuk tuturan menjaga ragam Betawi yang tidak dipakai dalam percakapan sehari-hari. Sahibul hikayat adalah pembawaan cerita panjang — kisah nabi, cerita Melayu, hikayat setempat — oleh seorang pembawa di hadapan pendengar, dalam ragam yang lebih tinggi dan lebih berirama daripada percakapan. Palang pintu adalah balasan pantun dan peragaan silat pada penjemputan pengantin, di mana dua pihak bertukar pantun sampai satu pihak mempersilakan yang lain masuk; seperti pasambahan di Minangkabau, maksudnya tidak dikatakan langsung melainkan dicapai melalui bentuk yang disepakati.
Yang membedakan keadaan bahasa ini dari hampir semua bahasa daerah lain adalah bahwa pusatnya berpindah. Pertumbuhan Jakarta mendorong penutur Betawi keluar dari kota yang menghasilkan bahasa itu, ke Bekasi, Depok, Tangerang, dan pinggiran selatan, sehingga ragam Betawi yang paling utuh hari ini dituturkan di luar batas kota yang menamainya, sementara di dalam kota yang beredar adalah bahasa Indonesia ragam Jakarta yang mengambil banyak dari Betawi tanpa menjadi Betawi. Perbedaan antara kedua hal itu sering dikaburkan, termasuk oleh penutur Jakarta sendiri, dan pengaburan itu membuat bahasa ini tampak jauh lebih kuat daripada keadaannya.
Entri penuh 3 / 3
2 bagian, 3 sumber, satu di antaranya primer.
Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.