Lurik

Benda Jawa Tengah OBJ-0020

Menyusut

Kain tenun bergaris yang ditenun dengan alat gedog, dipakai sebagai pakaian kerja dan gendongan, dengan nama motif bergaris yang masing-masing terikat pada keperluan tertentu.

Garis yang bernama

Lurik adalah kain bergaris yang ditenun dengan alat tenun gedog, dan pola garisnya bernama: tuluh watu, udan liris, sodo sakler, dan puluhan lainnya. Sebagian nama menyebut apa yang digambarkannya — udan liris berarti hujan gerimis — dan sebagian menyebut pemakaiannya.

Berbeda dari batik, lurik adalah kain kerja. Ia dipakai sebagai kain sehari-hari, sebagai baju surjan, dan sebagai jarik gendong untuk menggendong anak atau barang; kekuatan dan ketahanannya terhadap cucian adalah sifat yang dipentingkan. Sebagian pola dahulu dipakai pada kesempatan tertentu, misalnya untuk mitoni, dan pemakaian itu masih berlangsung di sebagian tempat.

Sumber 123

Alat tenun gedog, dan mesin

Lurik gedog ditenun dengan alat yang salah satu ujung lungsinya diikat ke pinggang penenun, sehingga ketegangan benang diatur tubuh. Lebar kainnya karena itu terbatas oleh jangkauan tangan, dan kain lebar dibuat dengan menjahit dua lembar.

Sejak pertengahan abad ke-20 sebagian besar lurik yang beredar ditenun dengan alat tenun bukan mesin yang lebih besar atau dengan mesin, yang menghasilkan kain lebih lebar, lebih murah, dan lebih seragam. Lurik gedog bertahan di beberapa tempat di Yogyakarta dan Klaten, dikerjakan penenun yang sebagian besar perempuan berusia lanjut, dan harganya beberapa kali lipat lurik mesin. Ensiklopedia ini mencatat keduanya dengan nama yang sama karena keduanya disebut lurik, dan menyatakan perbedaannya karena perbedaan itu tidak terlihat pada foto.

Sumber 234

Entri penuh 3 / 3

2 bagian, 4 sumber, satu di antaranya primer.

Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.

Bagaimana kedalaman dihitung →

Lanjut membaca