Betawi
Masyarakat DKI Jakarta
Menyusut
Bentuk nama lain dan yang ditolak
Bentuk yang ditolak tetap dapat dicari agar sumber lama tetap dapat ditemukan, tetapi tidak pernah dipakai dalam kalimat entri.
Masyarakat kota Jakarta yang terbentuk di Batavia antara abad ke-17 dan ke-19 dari penduduk berbagai asal — Melayu, Jawa, Sunda, Bali, Bugis, Tionghoa, Arab, dan bekas budak dari seluruh Nusantara — dengan bahasa Melayu ragam Betawi, kesenian yang unsur-unsurnya masih dapat ditelusuri asalnya, dan kedudukan yang menyusut di kotanya sendiri.
Terbentuk, bukan berpindah
Betawi berbeda dari hampir seluruh entri lain dalam ensiklopedia ini karena ia tidak mendiami wilayah asal. Ia terbentuk di satu kota, dalam jangka waktu yang dapat ditunjuk, dari penduduk yang sebagian besar dibawa ke sana — sebagai budak, tentara bayaran, pedagang, atau pekerja — oleh perusahaan dagang yang memerintah kota itu. Pembauran berlangsung terutama di luar tembok kota, di kampung-kampung yang penghuninya tidak lagi dapat kembali ke tempat asal masing-masing.
Penamaan “Betawi” sebagai satu kelompok baru mengeras pada awal abad ke-20, dan sebagian dipicu oleh politik: perhitungan penduduk kolonial memerlukan kategori, dan perkumpulan seperti Kaoem Betawi yang berdiri 1923 memakainya untuk menuntut kedudukan. Asal-usul ini penting karena ia menjelaskan mengapa unsur budaya Betawi masih dapat ditunjuk asalnya satu per satu, sesuatu yang tidak lazim.
Kesenian dan asalnya
Gambang kromong memakai gambang dan kromong dari perangkat gamelan bersama tehyan, kongahyan, dan sukong — rebab bersenar dua dari Tiongkok selatan — dalam satu ansambel, dan susunan itu adalah keterangan mengenai siapa yang tinggal bersebelahan. Tanjidor memakai alat tiup logam Eropa yang sampai ke kampung melalui korps musik perkebunan. Lenong adalah teater rakyat berbahasa Betawi dengan lawakan dan perkelahian. Ondel-ondel, sepasang boneka raksasa, dahulu diarak untuk menolak wabah dan kini muncul pada pembukaan toko.
Perubahan ondel-ondel dari penolak bala menjadi penyambut tamu, dan kemudian menjadi tontonan pengamen di jalan, berlangsung dalam satu abad dan dapat ditelusuri. Ia dicatat di sini apa adanya, tanpa disebut sebagai kemerosotan: yang berubah adalah keperluannya, dan bentuk mengikuti keperluan.
Di kota sendiri
Bagian Betawi dalam penduduk Jakarta menyusut sepanjang abad ke-20 dan seterusnya, dari mayoritas menjadi kurang dari sepertiga, karena kota itu tumbuh oleh pendatang dan karena harga tanah mendorong keluarga Betawi ke pinggiran — Depok, Bekasi, Tangerang. Kampung Betawi yang ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, seperti Setu Babakan, adalah jawaban atas hal itu, dan sekaligus menimbulkan pertanyaan yang sama dengan yang timbul di tempat lain dalam korpus ini: apakah sebuah kawasan yang ditetapkan untuk mempertahankan cara hidup masih menjalankan cara hidup itu, atau memperagakannya.
Bahasa Melayu ragam Betawi menempuh jalan yang berbeda dan justru menyebar: banyak cirinya masuk ke dalam bahasa Indonesia percakapan yang dipakai di seluruh negeri melalui televisi dan film, sehingga bahasa itu menguat persis ketika penuturnya sebagai kelompok melemah kedudukannya.
Entri penuh 3 / 3
3 bagian, 6 sumber, satu di antaranya primer.
Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.