Blangkon
Benda Jawa Tengah
Menyusut
Tutup kepala laki-laki Jawa berupa kain batik yang dahulu dililitkan tiap kali dipakai dan kini dijahit tetap, dengan bentuk Yogyakarta yang bertonjolan di belakang dan bentuk Surakarta yang rata.
Dilipat, lalu dijahit
Blangkon berasal dari iket, sehelai kain batik persegi yang dilipat dan diikat di kepala setiap kali dipakai. Bentuk jadi yang dijahit dan tinggal dikenakan muncul pada abad ke-20 dan menggantikan pengikatan hampir sepenuhnya, sehingga keterampilan mengikat iket Jawa kini dikuasai jauh lebih sedikit orang daripada jumlah pemakai blangkon.
Perubahan dari sesuatu yang dikerjakan setiap hari menjadi sesuatu yang dibeli sekali adalah perubahan yang berulang pada busana di seluruh dunia, dan akibatnya pada pengetahuan bersifat tetap: keterampilan yang tidak lagi dipakai setiap hari tidak diwariskan melalui peniruan melainkan harus diajarkan dengan sengaja, dan pengajaran yang disengaja menjangkau jauh lebih sedikit orang.
Mondolan, dan dua gaya
Gaya Yogyakarta memiliki mondolan, tonjolan bulat di belakang, sedangkan gaya Surakarta rata di belakang. Perbedaan itu kerap diterangkan melalui cerita tentang rambut panjang yang diikat ke belakang dan kemudian dipotong, dan cerita tersebut adalah penjelasan yang diberikan kemudian.
Yang dapat dinyatakan lebih kokoh adalah bahwa perbedaan kedua gaya itu berumur kurang dari tiga abad dan tumbuh setelah pembagian Mataram pada 1755, seperti hampir semua perbedaan lain antara perbendaharaan kedua keraton. Blangkon karena itu adalah salah satu contoh yang paling mudah ditunjuk tentang bagaimana pembagian sebuah kerajaan berlanjut sebagai perbedaan pada barang sehari-hari, dua setengah abad sesudah perjanjian yang membaginya.
Entri penuh 3 / 3
2 bagian, 4 sumber, satu di antaranya primer.
Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.