Gajah Mada

Tokoh Jawa Timur FIG-0006

Mahapatih Majapahit (kira-kira 1331–1364), yang sumpah palapa-nya dalam Pararaton menyatakan penolakan menikmati kesenangan sebelum kepulauan disatukan, dan yang namanya pada abad ke-20 dipakai untuk menerangkan kesatuan wilayah Indonesia sekarang.

Sumpah, dan daftar nama di dalamnya

Sumpah palapa tercatat dalam Pararaton dan berbunyi sebagai penolakan bersenang-senang sampai sejumlah tempat ditundukkan. Tempat-tempat yang disebut meliputi Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik — yang, dibaca dengan peta hari ini, membentang dari Kalimantan sampai Semenanjung Melayu dan Singapura.

Arti kata palapa sendiri tidak pasti; ia lazim diterjemahkan sebagai buah atau kesenangan, dan terjemahannya menentukan apakah sumpah itu terbaca sebagai puasa atau sebagai penolakan istirahat. Perbedaan tersebut jarang disebut di luar kajian bahasa.

Yang perlu diperhatikan lebih jauh adalah bahwa sumpah ini dipakai pada abad ke-20 sebagai penyokong gagasan bahwa Majapahit adalah pendahulu wilayah Indonesia. Nama satelit Palapa yang diluncurkan pada 1976 diambil dari sumpah tersebut, dan pemilihan nama itu menyatakan pembacaan yang dimaksud. Entri ini mencatat pembacaan tersebut sebagai peristiwa abad ke-20 dan bukan sebagai keterangan tentang abad ke-14.

Sumber 123

Bubat, dan satu jabatan yang tidak dikenal namanya

Gajah Mada memegang jabatan mapatih atau patih hamangkubhumi, yang lazim diterjemahkan sebagai perdana menteri. Terjemahan itu memindahkan susunan pemerintahan modern kepada susunan yang tidak sama, dan yang sebenarnya dapat dinyatakan adalah bahwa ia memegang wewenang pelaksanaan tertinggi di bawah raja selama lebih dari tiga puluh tahun, melintasi dua pemerintahan.

Peristiwa Bubat pada 1357, ketika rombongan pengantin Sunda dibunuh di lapangan Bubat, dicatat sebagai titik balik kedudukannya: Pararaton dan Kidung Sunda menyebutnya sebagai pihak yang bertanggung jawab, dan sesudah itu kedudukannya menurun. Peristiwa itu dicatat tersendiri sebagai entri peristiwa, termasuk perbedaan antara sumber Jawa dan sumber Sunda yang tidak dapat didamaikan.

Akibat peristiwa itu berlanjut sampai hari ini dalam bentuk yang dapat diamati: di kota-kota Sunda hampir tidak ada jalan bernama Gajah Mada, dan penamaan yang menyandingkan nama Sunda dan nama Jawa pada perkara ini masih menimbulkan keberatan. Ensiklopedia ini mencatat keadaan tersebut sebagai bagian dari catatan tentang tokoh ini, sebab kedudukan seorang tokoh dalam ingatan adalah keterangan tentangnya.

Sumber 234

Entri penuh 3 / 3

2 bagian, 4 sumber, satu di antaranya primer.

Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.

Bagaimana kedalaman dihitung →

Lanjut membaca