Raden Ngabehi Ranggawarsita

Tokoh Jawa Tengah FIG-0013

Pujangga Keraton Surakarta (1802–1873), penulis Serat Kalatidha yang merumuskan zaman edan — zaman gila — sebagai keterangan mengenai masanya sendiri, dan yang sering disebut sebagai pujangga keraton yang terakhir.

Zaman edan

Serat Kalatidha memuat bait yang paling banyak dikutip dalam bahasa Jawa modern: keterangan tentang zaman edan, zaman gila, yang menyatakan bahwa siapa yang tidak ikut gila tidak mendapat bagian, tetapi bahwa sebahagia-bahagianya orang yang lupa, masih lebih bahagia orang yang ingat dan waspada.

Bait itu ditulis pada pertengahan abad ke-19, ketika keraton Surakarta telah kehilangan hampir seluruh kewenangannya kepada pemerintah kolonial dan kedudukan pujangga istana menjadi kedudukan tanpa pekerjaan yang nyata. Pembacaan yang menempatkan bait tersebut sebagai ramalan tentang zaman yang akan datang melewatkan bahwa penulisnya sedang menerangkan zamannya sendiri.

Sejak itu bait tersebut dikutip pada hampir setiap masa perubahan besar di Indonesia — pada akhir masa kolonial, pada 1965, pada 1998, dan sesudahnya — oleh pihak yang berbeda-beda dan untuk maksud yang berlawanan. Ketahanan kutipan itu terhadap perbedaan maksud adalah keterangan tentang bentuknya: ia menyatakan keadaan tanpa menyebut siapa yang bersalah.

Sumber 123

Pujangga penutup, dan sebuah gelar yang dibuat kemudian

Ranggawarsita lazim disebut pujangga panutup, pujangga penutup, yakni yang terakhir dalam barisan pujangga keraton Jawa. Sebutan itu bukan gelar jabatan melainkan penilaian yang diberikan kemudian, dan ia menyatakan pembacaan tertentu tentang abad ke-19: bahwa susastra keraton berakhir bersamanya.

Pembacaan itu dapat dipersoalkan. Penulisan Jawa berlanjut sesudahnya dalam bentuk lain — penerbitan cetak, surat kabar berbahasa Jawa, dan susastra yang tidak bersandar pada keraton — dan menyebut satu orang sebagai penutup memusatkan perhatian pada satu lembaga dan menyatakan bahwa berakhirnya lembaga itu adalah berakhirnya kesusastraannya.

Sejumlah karya yang dinisbahkan kepadanya juga dipersoalkan keasliannya, termasuk beberapa ramalan yang beredar luas dengan namanya. Karena karyanya banyak diterbitkan ulang pada abad ke-20 dengan penyuntingan yang tidak selalu dinyatakan, pembaca yang mengutip Ranggawarsita perlu memeriksa terbitan yang dipakainya — dan keterangan itu dicantumkan di sini karena kutipan tanpa periksa adalah bentuk kekeliruan yang paling sering dijumpai pada tokoh ini.

Sumber 243

Entri penuh 3 / 3

2 bagian, 4 sumber, satu di antaranya primer.

Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.

Bagaimana kedalaman dihitung →

Lanjut membaca