Sunan Kalijaga
Tokoh Jawa Tengah
Salah seorang Wali Sanga, yang dalam tuturan Jawa disebut sebagai penyebar Islam yang memakai wayang, gamelan, dan upacara setempat sebagai jalannya, dan yang riwayat hidupnya hampir seluruhnya berasal dari babad dan bukan dari sumber sezaman.
Wali yang tidak terdapat dalam arsip
Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling banyak disebut di antara Wali Sanga dalam penuturan Jawa, dan sekaligus tokoh yang paling sedikit ditopang sumber sezaman. Tidak ada prasasti, piagam, maupun catatan asing yang menyebutnya; yang ada adalah babad yang ditulis berabad-abad kemudian, silsilah yang disusun oleh pihak yang berkepentingan pada silsilah itu, dan penuturan lisan yang hidup.
Keadaan itu berlaku bagi hampir seluruh Wali Sanga, dan bahkan daftar sembilan namanya sendiri berbeda-beda antar sumber: sebagian menyebut nama yang tidak ada pada daftar lain, dan “sembilan” tampaknya jumlah yang tetap sementara isinya berubah. Entri ini menyatakan hal tersebut di muka, karena pembaca yang mencari riwayat hidup akan mendapati bahwa yang tersedia adalah riwayat penuturan.
Yang dapat dinyatakan dengan dasar yang lebih kuat adalah bahwa Islam menyebar di pesisir utara Jawa antara abad ke-14 dan ke-16, bahwa penyebarannya berlangsung bersama perdagangan dan perkawinan serta melalui kota pelabuhan, dan bahwa bentuk yang berlaku di Jawa memuat unsur yang sudah ada sebelumnya. Penuturan tentang Sunan Kalijaga adalah cara masyarakat Jawa menerangkan keadaan tersebut kepada dirinya sendiri.
Wayang sebagai dakwah: sebuah pernyataan yang perlu diperiksa
Penuturan yang paling luas beredar menyebut Sunan Kalijaga memakai wayang, gamelan, dan upacara setempat sebagai sarana penyebaran, dengan pertunjukan yang bayarannya berupa pengucapan syahadat. Penuturan itu dipakai sampai hari ini sebagai dasar pembenaran bagi kesenian Jawa di hadapan keberatan keagamaan, dan justru karena itu ia perlu diperiksa dan bukan sekadar diulang.
Bukti pertunjukan wayang mendahului masa yang dituturkan: prasasti abad ke-9 sudah menyebut pertunjukan mawayang, jauh sebelum Islam. Yang dituturkan karena itu bukan penciptaan melainkan pemakaian ulang, dan sebagian unsur yang dikaitkan dengan Sunan Kalijaga — bentuk wayang yang jauh dari rupa manusia, lakon tertentu, gending tertentu — dapat berasal dari masa yang lebih kemudian daripada tokohnya.
Ensiklopedia ini tidak menyimpulkan bahwa penuturan tersebut keliru. Yang dinyatakannya adalah bahwa penuturan itu mengerjakan sesuatu — ia menyatakan bahwa kesenian Jawa dan Islam Jawa tidak berlawanan — dan bahwa pekerjaan itu berlangsung terlepas dari benar tidaknya rincian sejarahnya. Kedudukan penuturan sebagai alasan yang dipakai orang adalah keterangan yang layak dicatat ensiklopedia sama seperti tarikh.
Entri penuh 3 / 3
2 bagian, 5 sumber, satu di antaranya primer.
Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.