Malin Kundang
Narasi Sumatera Barat
Berdaya penuh Diperselisihkan
Bentuk nama lain dan yang ditolak
Bentuk yang ditolak tetap dapat dicari agar sumber lama tetap dapat ditemukan, tetapi tidak pernah dipakai dalam kalimat entri.
Narasi anak durhaka yang pergi merantau, menjadi kaya, menolak mengakui ibunya, dan dikutuk menjadi batu — dituturkan di pesisir Sumatera Barat dan dikenal di seluruh Indonesia melalui buku sekolah.
Jalan cerita
Malin Kundang, anak seorang janda miskin, pergi merantau dengan kapal dagang. Ia berhasil, menikah dengan perempuan berkedudukan, dan kembali dengan kapal sendiri. Ketika ibunya mendatanginya di dermaga, ia menyangkal perempuan itu di hadapan istrinya. Sang ibu berdoa, badai datang, dan Malin Kundang beserta kapalnya menjadi batu.
Sebuah formasi batu di Pantai Air Manis, Padang, ditunjukkan sebagai tempatnya. Formasi itu telah diperbaiki dan dibentuk ulang beberapa kali sejak 1980-an, dan keterangan mengenai sejauh mana bentuk sekarang merupakan pahatan berbeda-beda menurut sumber.
Kedudukan dalam adat
Narasi ini kerap dibaca semata sebagai peringatan berbakti kepada orang tua. Pembacaan dari dalam wilayah adat menambahkan lapisan kedua: Malin Kundang memutuskan hubungan dengan garis ibu, dan dalam susunan matrilineal itu berarti memutus hubungan dengan suku, harta pusaka, dan hak berbicara. Kutukan menjadi batu adalah bentuk kiasan dari keadaan seseorang yang tidak lagi memiliki tempat.
Masih diperselisihkan apakah narasi ini semula merupakan cerita adat setempat atau bentuk lokal dari kisah yang beredar luas di dunia Melayu; keduanya didukung sumber yang berbeda.