Sekaten

Praktik Daerah Istimewa Yogyakarta PRC-0032

Berdaya penuh

Rangkaian tujuh hari menjelang Maulud Nabi di Yogyakarta dan Surakarta, yang intinya adalah dibunyikannya dua perangkat gamelan tua di halaman masjid agung siang dan malam, dan yang di sekelilingnya tumbuh pasar malam yang jauh lebih besar dan lebih dikenal daripada upacaranya.

Dua perangkat gamelan

Perangkat yang dibunyikan adalah Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga, gamelan sekati yang hanya dikeluarkan sekali setahun dan dibunyikan bergantian tanpa henti selama tujuh hari di halaman Masjid Gedhe. Laras dan tabuhannya berbeda dari gamelan biasa: suaranya lebih keras dan lebih lambat, dan dimaksudkan untuk terdengar jauh.

Tuturan Jawa menyebut bahwa Sunan Kalijaga memakai gamelan untuk mengumpulkan orang, dan bahwa mereka yang datang lalu diajak mengucapkan dua kalimat syahadat — dari situ pula kata sekaten kerap diterangkan sebagai berasal dari syahadatain. Penjelasan asal kata itu beredar luas dan tidak dapat dipastikan; yang dapat dipastikan adalah bahwa rangkaian ini dijalankan keraton sebagai bagian dari peringatan Maulud sejak Mataram, dan bahwa kedua perangkat gamelan itu jauh lebih tua daripada catatan mengenainya.

Sumber 123

Pasar malam

Di sekeliling rangkaian tujuh hari itu berdiri pasar malam yang kini berlangsung berminggu-minggu sebelumnya, dengan komidi putar, penjual makanan, dan panggung dangdut. Bagi sebagian besar penduduk kota, “Sekaten” berarti pasar malam itu dan bukan gamelannya.

Hubungan antara keduanya bukan pencemaran melainkan bentuk yang lama: keramaian memang bagian dari maksudnya sejak awal, karena upacara yang dimaksudkan mengumpulkan orang memerlukan alasan bagi orang untuk datang. Yang berubah adalah perbandingannya. Keraton menyatakan bahwa yang menjadi intinya tetap yang di dalam halaman masjid, dan pernyataan itu perlu diulang setiap tahun justru karena keadaannya menunjukkan sebaliknya.

Sumber 45

Entri penuh 3 / 3

2 bagian, 5 sumber, satu di antaranya primer.

Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.

Bagaimana kedalaman dihitung →

Dalam kalender

Terhitung dari penanggalan

Sekaten

Tujuh hari sebelum 12 Mulud, berakhir pada Maulud Nabi

Dapat dihitung dari penanggalan Jawa-Islam dan diumumkan keraton jauh di muka. Bulan Masehinya berpindah kira-kira sebelas hari lebih awal setiap tahun.

Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta & Masjid Agung Surakarta

Lanjut membaca