Borobudur
Tempat Jawa Tengah
Bangunan Buddha berundak dari abad ke-8 dan ke-9 di dataran Kedu, satu susunan batu andesit tanpa ruang dalam, dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha, yang ditinggalkan sebelum abad ke-15 dan dipugar dua kali pada abad ke-20.
Susunan
Bangunan ini bukan candi berisi melainkan bukit yang dilapisi batu. Pengunjung berjalan mengelilinginya searah jarum jam, naik dari satu tingkat ke tingkat berikut, dan urutan relief yang dilewatinya adalah urutan pembacaan: kaki yang tertutup memuat Karmawibhangga mengenai sebab dan akibat perbuatan; empat lorong berikutnya memuat riwayat Buddha dan kisah-kisah Jataka serta Gandawyuha; tiga pelataran bundar di atas hampir kosong, dengan 72 stupa berterawang yang masing-masing memuat satu arca; dan stupa induk di puncak kosong sama sekali.
Bahwa kekosongan itu disengaja atau akibat pencurian adalah pertanyaan yang tidak dapat dijawab dari keadaan sekarang, dan sumber-sumber berbeda pendapat. Yang dapat dinyatakan adalah bahwa susunannya berjalan dari yang paling padat gambar menuju yang paling sedikit, dan bahwa perjalanan naik itu sendiri adalah bentuk yang dimaksudkan.
Ditinggalkan dan ditemukan kembali
Kapan dan mengapa Borobudur ditinggalkan tidak diketahui. Perpindahan pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada abad ke-10, letusan gunung api, dan peralihan keagamaan semuanya diajukan, dan tidak satu pun ditopang bukti yang memutuskan. Pada awal abad ke-19 bangunan itu tertutup tanah dan tumbuhan, dan penduduk sekitar mengetahuinya sebagai bukit berbatu.
Pembersihan yang diperintahkan Raffles pada 1814 dikerjakan oleh H. C. Cornelius. Pemugaran pertama oleh Theodoor van Erp berlangsung 1907–1911 dan memperbaiki bagian atas. Pemugaran kedua, 1975–1982, dikerjakan bersama UNESCO: lebih dari satu juta batu dibongkar, dibersihkan, dan dipasang kembali di atas lapisan kedap air dan saluran pembuangan. Selama dua abad itu sejumlah besar arca kepala Buddha keluar dari tempatnya dan kini berada di koleksi di beberapa benua; pemulangannya tidak pernah menjadi tuntutan resmi yang menyeluruh.
Tempat ibadah dan tempat kunjungan
Borobudur menerima dua jenis kehadiran yang syaratnya berbeda. Ia adalah tempat ibadah umat Buddha Indonesia, yang menjalankan Waisak di sana setiap tahun dengan perarakan dari Candi Mendut, dan ia adalah kawasan kunjungan dengan jumlah pengunjung yang pernah melampaui daya tahan batunya. Pembatasan jumlah pendaki ke pelataran atas dan kewajiban memakai alas kaki khusus, yang diberlakukan sejak 2022, adalah jawaban atas keausan yang terukur pada anak tangga.
Ketegangan antara kedua kehadiran itu tidak tersembunyi dan tidak terselesaikan: pembatasan yang melindungi batu juga membatasi akses umat, dan penetapan tarif yang berbeda bagi pengunjung asing dan dalam negeri mengundang bantahan berulang. Entri ini mencatat keadaan itu tanpa menyatakan penyelesaiannya.
Entri penuh 3 / 3
3 bagian, 4 sumber, satu di antaranya primer.
Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.