Peristiwa Bubat (1357)
Peristiwa Jawa Timur
Diperselisihkan
Bentuk nama lain dan yang ditolak
Bentuk yang ditolak tetap dapat dicari agar sumber lama tetap dapat ditemukan, tetapi tidak pernah dipakai dalam kalimat entri.
Tewasnya raja Sunda beserta rombongannya di lapangan Bubat di ibu kota Majapahit, ketika rombongan itu datang untuk pernikahan putri raja dengan Hayam Wuruk dan Gajah Mada menuntut agar putri itu diserahkan sebagai tanda takluk — peristiwa yang sumbernya sedikit, penuturannya panjang, dan akibatnya pada ingatan orang masih terasa.
Sumber, dan seberapa jauh masing-masing sampai
Nagarakretagama, yang ditulis delapan tahun sesudah tarikh peristiwa ini oleh seorang pejabat istana Majapahit, tidak menyebutnya sama sekali. Ketiadaan itu dapat berarti beberapa hal dan tidak dapat diartikan sendirian.
Pararaton menyebutnya dalam beberapa baris, tanpa penjelasan panjang. Carita Parahyangan, dari sisi Sunda, menyebut kematian raja di Majapahit secara ringkas. Kidung Sunda, yang disalin di Bali dan berasal dari masa yang jauh kemudian, memuat seluruh penuturan yang dikenal hari ini — nama Dyah Pitaloka, tuntutan Gajah Mada, perlawanan sampai orang terakhir, dan kematian putri itu. Hampir semua rincian yang beredar berasal dari sumber yang terakhir dan paling jauh dari peristiwanya.
Apa yang diperselisihkan
Yang diperselisihkan bukan apakah sesuatu terjadi, melainkan apa yang terjadi, mengapa, dan seberapa banyak dari penuturan panjang itu dapat dipertahankan. Kedudukan-kedudukan yang tercatat dalam klaim CLM-0009 berkisar dari pembacaan yang menerima garis besar Kidung Sunda sampai pembacaan yang memandang kidung itu sebagai karya sastra Bali abad kemudian yang menerangkan hubungan Jawa–Sunda pada masa penulisnya dan bukan pada 1357.
Ensiklopedia ini tidak memutuskan. Yang dinyatakannya adalah bahwa satu peristiwa dengan tiga sumber pendek dan satu sumber panjang yang jauh kemudian tidak dapat menanggung penceritaan serinci yang beredar, dan bahwa hal itu berlaku bagi kedua pihak yang berselisih.
Ingatan dan pantangan
Dari peristiwa ini diturunkan sejumlah pantangan yang sering disebut: bahwa orang Sunda dan orang Jawa tidak boleh saling menikah, dan bahwa nama Gajah Mada tidak dipakai untuk jalan di kota Sunda. Keduanya perlu diperiksa secara terpisah dari peristiwanya.
Pantangan pernikahan disebut jauh lebih sering daripada dijalankan. Tidak ada lembaga adat Sunda yang menegakkannya, tidak terdapat dalam naskah mana pun yang diperiksa, dan pernikahan antara keduanya lazim di seluruh Jawa Barat. Yang benar-benar bertahan bukanlah aturan melainkan kesadaran: bahwa hubungan antara kedua wilayah memiliki satu luka yang bertarikh, dan bahwa menyebutnya bukan perkara sepele. Sumber tersier SRC-0604 dicantumkan dalam korpus ini sebagai penanda klaim yang beredar, dan tidak dipakai sebagai dasar pernyataan mana pun.
Entri penuh 3 / 3
3 bagian, 7 sumber, satu di antaranya primer.
Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.
Koreksi pada entri ini
Koreksi
Koreksi penamaan dan sumber. Judul “Perang Bubat” diganti menjadi “Peristiwa Bubat”, karena tidak ada sumber yang menggambarkan pertempuran antara dua pasukan. Selain itu, pernyataan bahwa Nagarakretagama menyebut peristiwa ini telah dihapus: naskah itu tidak menyebutnya, dan ketiadaan itu kini dinyatakan sebagai keterangan tersendiri.