Wayang Kulit
Praktik Jawa Tengah
Terpelihara
Pertunjukan bayangan semalam suntuk dengan boneka kulit kerbau bertatah dan bertangkai tanduk, satu dalang yang menyuarakan seluruh tokoh dan memimpin gamelan, dan satu layar yang kedua sisinya dapat ditonton — bentuk yang sekaligus menjadi hiburan, pengajaran, dan sarana upacara.
Satu orang
Dalang menjalankan seluruh pertunjukan sendirian selama kira-kira delapan jam tanpa naskah tertulis. Ia menyuarakan setiap tokoh dengan suara yang berbeda, menuturkan bagian naratif dalam bahasa Jawa yang berbeda tingkatnya menurut siapa yang berbicara, memberi isyarat kepada penabuh gamelan dengan ketukan pada kotak wayang, dan menggerakkan boneka. Urutan lakon mengikuti kerangka yang tetap — pathet yang berganti tiga kali sepanjang malam, masing-masing dengan laras dan suasananya — dan di dalam kerangka itu dalang menyusun sendiri.
Karena itu wayang tidak dapat dipelajari dari teks. Yang diwariskan adalah kerangka, perbendaharaan, dan kemampuan menyusun di tempat, dan pewarisannya berlangsung melalui pemagangan yang panjang. Jumlah dalang yang menguasai rangkaian penuh jauh lebih kecil daripada jumlah yang tampil, karena sebagian besar pementasan sekarang dipendekkan menjadi tiga atau empat jam.
Dua sisi layar
Penonton dapat duduk di sisi bayangan atau di sisi dalang. Pembagian itu sering diterangkan sebagai pembagian antara perempuan dan laki-laki, atau antara yang melihat bayangan dan yang melihat cara bayangan dibuat, dan penjelasan simbolis yang bertingkat-tingkat telah dibangun di atasnya.
Sebagian besar penjelasan itu dicatat oleh penulis Eropa dan Jawa pada abad ke-19 dan ke-20, dan sebagiannya masuk kembali ke dalam pengajaran dalang sesudahnya. Ini bukan alasan menolaknya, tetapi alasan menyebut asalnya: pemaknaan wayang sebagai lambang kehidupan manusia yang dimainkan Tuhan adalah pembacaan yang beredar luas dan berumur, dan bukan keterangan yang dapat ditelusuri sampai ke masa sebelum pembacaan itu dicatat.
Lakon dan sumbernya
Sebagian besar lakon berasal dari Mahabharata dan Ramayana, tetapi susunan tokohnya berbeda dari India: para Pandawa bersaudara dengan punakawan — Semar, Gareng, Petruk, Bagong — yang tidak terdapat dalam sumber India mana pun dan yang menjadi pusat bagian lawak sekaligus bagian yang paling tajam. Semar, yang berbentuk hamba dan berkedudukan dewa, adalah tokoh yang paling jelas menunjukkan bahwa wayang bukan penerusan melainkan penyusunan ulang.
Di samping itu terdapat lakon carangan yang disusun dalang sendiri di luar pakem, lakon Panji yang berasal dari Jawa, dan pada abad ke-20 lakon yang dibuat untuk penyuluhan pemerintah mengenai keluarga berencana dan pemilihan umum. Yang terakhir kerap ditinggalkan dari uraian mengenai wayang, dan dicantumkan di sini karena ia menunjukkan bentuk ini masih dipakai untuk apa yang perlu dikatakan pada zamannya.
Entri penuh 3 / 3
3 bagian, 6 sumber, satu di antaranya primer.
Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.