Grebeg

Praktik Daerah Istimewa Yogyakarta PRC-0033

Berdaya penuh

Perarakan keraton tiga kali setahun — pada Idulfitri, Iduladha, dan Maulud — yang membawa gunungan, tumpukan berbentuk kerucut dari hasil bumi dan makanan, dari istana ke masjid agung, tempat gunungan itu diperebutkan hadirin sesudah didoakan.

Tiga kali setahun

Grebeg diselenggarakan keraton Yogyakarta dan Surakarta tiga kali setahun: Grebeg Syawal pada Idul Fitri, Grebeg Besar pada Idul Adha, dan Grebeg Mulud pada Maulud. Yang diarak adalah gunungan, tumpukan berbentuk kerucut dari hasil bumi, ketan, dan kue, yang dibawa dari keraton ke Masjid Gedhe dengan pengawalan prajurit keraton dan didoakan sebelum dibagikan.

Pembagiannya berlangsung dengan diperebutkan. Orang yang hadir mengambil bagian gunungan, dan yang diambil dibawa pulang serta sebagian ditanam di sawah. Perebutan itu bukan kekacauan melainkan bentuk pembagian yang dikehendaki: gunungan diserahkan kepada yang hadir, dan penyerahan itu selesai ketika tidak ada yang tersisa.

Sumber 123

Prajurit yang bukan tentara

Pengawalan dilakukan bregada prajurit keraton — Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, dan lainnya — dengan seragam, panji, dan gending masing-masing. Kesatuan-kesatuan ini berasal dari susunan ketentaraan keraton yang berhenti berfungsi sebagai ketentaraan pada abad ke-19, dan yang bertahan sebagai kedudukan abdi dalem yang diisi orang biasa dari kampung-kampung tertentu.

Nama-nama kesatuan itu menyimpan sejarah yang menarik diperiksa: Dhaeng menunjuk kepada Makassar, dan Bugis kepada Bugis — peninggalan masa ketika pasukan bayaran dari Sulawesi bekerja di Jawa. Sebuah upacara yang hari ini terbaca sebagai peragaan keraton karena itu menyimpan catatan tentang perpindahan orang antar pulau tiga abad lalu, dan ensiklopedia ini mencatatnya di sini karena keterangan semacam itu tidak memiliki tempat lain.

Sumber 124

Entri penuh 3 / 3

2 bagian, 4 sumber, satu di antaranya primer.

Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.

Bagaimana kedalaman dihitung →

Dalam kalender

Terhitung dari penanggalan

Grebeg Maulud

12 Mulud, hari terakhir rangkaian Sekaten

Satu dari tiga grebeg dalam setahun; dua lainnya jatuh pada Syawal dan Besar. Ketiganya dihitung dari penanggalan kamariah dan bukan dari penanggalan Masehi.

Keraton Yogyakarta & Keraton Surakarta

Lanjut membaca