Prabu Siliwangi
Tokoh Jawa Barat
Nama raja Sunda Pajajaran dalam tuturan Sunda, yang dalam naskah dapat dikenali pada Sri Baduga Maharaja (memerintah 1482–1521), dan yang dalam tuturan menjadi tokoh tunggal yang menghimpun beberapa raja sekaligus.
Satu nama, beberapa raja
Siliwangi adalah nama yang dipakai dalam penuturan Sunda bagi raja Pajajaran, dan dalam penuturan itu ia adalah satu tokoh: raja besar yang memerintah pada masa kemakmuran dan yang pada akhirnya tidak mati melainkan ngahiang, menghilang, bersama sebagian pengikutnya.
Naskah dan prasasti memberi gambaran yang berbeda. Prasasti Batutulis di Bogor, bertarikh 1533, didirikan oleh Prabu Surawisesa bagi ayahnya Sri Baduga Maharaja, yang memerintah dari 1482 dan yang dalam sebagian pembacaan adalah tokoh yang disebut Siliwangi. Tetapi nama Siliwangi juga dipakai dalam penuturan bagi raja lain, dan sebagian pengkaji membaca nama itu sebagai gelar atau sebutan kehormatan yang dipakai lebih dari satu orang, bukan nama diri satu raja.
Entri ini menyajikan kedua hal tersebut dan tidak menyatukannya. Yang dapat dinyatakan dengan dasar kuat adalah bahwa kerajaan Sunda dengan ibu kota Pakuan berdiri sampai 1579, bahwa Sri Baduga Maharaja memerintah pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, dan bahwa penuturan tentang Siliwangi lebih luas daripada tokoh mana pun yang dapat ditunjuk pada prasasti.
Ngahiang, dan pemakaian nama itu sesudahnya
Penuturan bahwa Siliwangi tidak mati melainkan menghilang berkaitan dengan penuturan tentang Kanekes: sebagian penuturan menyebut pengikutnya yang menghilang bersamanya sebagai leluhur orang Baduy, dan sebagian orang Baduy sendiri menyatakan hubungan tersebut sementara sebagian lain tidak. Ensiklopedia ini mencatat adanya penuturan tersebut dan tidak menyatakannya sebagai keterangan tentang asal-usul, sebab pernyataan tentang asal-usul Kanekes tunduk pada pembatasan yang ditetapkan lembaga adat desa itu.
Nama Siliwangi dipakai secara luas di Jawa Barat pada abad ke-20 dan sesudahnya: sebuah divisi tentara, stadion, jalan, universitas, dan hotel. Pemakaian itu bermula pada masa revolusi dan dipertahankan sesudahnya, dan ia menempatkan nama tersebut sebagai lambang kesundaan dalam susunan kebangsaan Indonesia.
Pemakaian semacam ini adalah pokok yang berulang: sebuah nama dari penuturan menjadi lambang wilayah dalam negara modern, dan sesudah itu pertanyaan tentang siapa tokoh itu sesungguhnya menjadi pertanyaan yang jawabannya membawa akibat di luar sejarah. Entri ini mencatat keadaan tersebut sebagai bagian dari catatannya.
Entri penuh 3 / 3
2 bagian, 5 sumber, satu di antaranya primer.
Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.