Carita Parahyangan

Teks Jawa Barat TXT-0009

Menyusut

Naskah Sunda Kuno abad ke-16 mengenai raja-raja Sunda dan Galuh, sumber tertulis utama bagi kesejarahan Sunda sebelum Islam, dan satu-satunya naskah yang menyebut peristiwa Bubat dari sisi Sunda.

Sejarah yang ditulis untuk menilai

Carita Parahyangan menyebut raja-raja Sunda dan Galuh berturut-turut, tetapi yang menjadi ukurannya bukan lamanya memerintah atau luasnya wilayah melainkan apakah raja itu memegang ajaran. Raja yang memelihara aturan disebut dengan pujian singkat; raja yang meninggalkannya disebut dengan keterangan bahwa negerinya kemudian mengalami kesulitan.

Susunan semacam itu menjadikan naskah ini sumber yang berharga bagi urutan raja dan sumber yang berhati-hati bagi sebab peristiwa. Ia juga menjadikannya sumber langsung tentang apa yang dianggap sebagai pemerintahan yang baik oleh penulisnya pada abad ke-16, dan keterangan jenis kedua itu kerap lebih kokoh daripada keterangan jenis pertama.

Sumber 123

Bubat dari sisi Sunda

Naskah ini memuat penyebutan peristiwa Bubat dari sisi Sunda, dan penyebutannya singkat: rombongan berangkat, dan yang kembali adalah kabar kematian. Ketiadaan uraian itu sendiri patut diperhatikan, sebab sumber Jawa dan Bali — Pararaton dan Kidung Sunda — menguraikannya panjang.

Perbedaan panjang uraian antara pihak yang kehilangan dan pihak yang diceritakan sebagai penyebab adalah hal yang berulang dalam bahan sejarah, dan ia tidak dapat diselesaikan dengan memilih salah satu sebagai yang benar. Entri peristiwa yang berkaitan memuat kedua penuturan berdampingan; di sini yang dicatat adalah bahwa naskah Sunda tertua yang menyebutkannya menyebutkannya dengan sedikit kata.

Sumber 143

Entri penuh 3 / 3

2 bagian, 4 sumber, satu di antaranya primer.

Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.

Bagaimana kedalaman dihitung →

Lanjut membaca