Pangeran Dipanagara
Tokoh Daerah Istimewa Yogyakarta
Bentuk nama lain dan yang ditolak
Bentuk yang ditolak tetap dapat dicari agar sumber lama tetap dapat ditemukan, tetapi tidak pernah dipakai dalam kalimat entri.
Pangeran Yogyakarta (1785–1855) yang memimpin Perang Jawa 1825–1830, ditangkap dalam perundingan pada 1830, dan menulis riwayat hidupnya sendiri dalam pembuangan — satu dari sedikit naskah otograf bangsawan Jawa yang bertahan.
Otograf, dan apa yang jarang dimiliki sejarah
Dalam pembuangan Dipanagara menulis Babad Dipanagara, riwayat hidupnya sendiri dalam tembang macapat berbahasa Jawa, selesai pada 1832 di Manado. Naskah otograf itu adalah salah satu dari sedikit sekali sumber di Asia Tenggara abad ke-19 tempat seorang pemimpin perlawanan menceritakan perlawanannya sendiri dengan tangannya sendiri, dan sejak 2013 ia tercatat dalam Memory of the World UNESCO.
Naskah itu bukan laporan peristiwa dalam pengertian modern. Ia disusun dalam bentuk babad, dengan penanggalan Jawa, penyebutan mimpi dan pertemuan dengan makhluk yang tidak kelihatan, dan susunan yang menempatkan penulisnya di dalam urutan raja Jawa. Sejarawan yang memakainya harus membaca kedua hal itu sekaligus: kesaksian langsung, dan bentuk yang menyusun kesaksian tersebut menurut kaidahnya sendiri.
Bagi ensiklopedia ini, naskah tersebut adalah contoh paling jelas tentang mengapa penggolongan sumber pada tingkat satu tidak berarti tanpa syarat. Ia adalah sumber primer yang tidak tergantikan dan sekaligus sebuah karya yang memiliki maksud terhadap pembacanya, dan kedua keterangan itu berlaku bersamaan.
Entri penuh 3 / 3
2 bagian, 4 sumber, satu di antaranya primer.
Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.