Batik

Benda Jawa Tengah OBJ-0013

Terpelihara Diperselisihkan

Kain yang dihias dengan penutupan malam dan pencelupan berulang, di Jawa berkembang menjadi dua kutub yang berbeda tegas — batik pedalaman keraton dengan warna soga dan biru dan motif yang terikat aturan, dan batik pesisir dengan warna banyak dan motif yang menyerap apa saja yang lewat di pelabuhan.

Pedalaman dan pesisir

Batik keraton Surakarta dan Yogyakarta memakai warna yang sedikit: soga cokelat, biru nila, dan putih kain, dengan perbedaan yang dipegang teguh antara keduanya — Yogyakarta memakai putih yang lebih terang dan Surakarta dasar yang lebih kekuningan. Motifnya tertata dalam bidang yang berulang menurut aturan, dan sebagian di antaranya hanya boleh dipakai kalangan tertentu.

Batik pesisir — Pekalongan, Cirebon, Lasem, Indramayu — mengambil arah sebaliknya. Warnanya banyak dan cerah, motifnya memuat burung phoenix dari Tiongkok, karangan bunga dari Belanda, dan pola mega mendung dari Cirebon. Lasem menghasilkan merah yang dikaitkan dengan kandungan airnya dan dengan pengusaha peranakan yang menjalankan bengkelnya. Dua kutub ini bukan urutan mutu melainkan dua sejarah yang berbeda: satu tumbuh di bawah aturan istana, satu di bawah lalu lintas pelabuhan.

Sumber 123

Tulis, cap, dan cetak

Batik tulis dikerjakan dengan canting, corong tembaga kecil bergagang bambu yang mengalirkan malam panas sehelai demi sehelai; satu kain halus menuntut berbulan-bulan dan dikerjakan hampir selalu oleh perempuan. Batik cap memakai stempel tembaga, yang masuk pada pertengahan abad ke-19 dan memangkas waktu menjadi hari; pekerjaannya berat dan hampir selalu dilakukan laki-laki. Keduanya adalah batik karena keduanya memakai malam sebagai penahan warna.

Kain bermotif batik yang dicetak dengan mesin, tanpa malam sama sekali, bukan batik menurut batasan yang dipakai penetapan UNESCO 2009 dan menurut pembatik sendiri, dan disebut batik printing dalam pemakaian sehari-hari — sebuah istilah yang menyatukan dua hal yang justru perlu dibedakan. Sebagian besar kain yang dijual sebagai batik di Indonesia hari ini adalah jenis yang terakhir, dan pembedaan ini adalah yang paling sering hilang dalam keterangan penjualan; lihat SRC-0605.

Sumber 4156

Kain yang dipakai, bukan dipajang

Kain batik dipakai sebagai jarik atau kain panjang yang dililitkan, dan jenis kain menyatakan keadaan: motif tertentu untuk pernikahan, tertentu untuk kehamilan tujuh bulan, tertentu untuk melayat. Pemberian kain adalah bagian dari kewajiban antar-keluarga, seperti ulos pada masyarakat Batak.

Penetapan UNESCO 2009 diikuti kebijakan pemerintah yang menjadikan hari Jumat sebagai hari berbatik di kantor dan sekolah. Akibatnya besar dan bercabang: permintaan naik tajam, dan sebagian besar kenaikan itu diserap kain cetak mesin, sehingga penetapan yang dimaksudkan melindungi kerajinan justru memperbesar pasar bagi barang yang bukan kerajinan itu. Pembatik tulis melaporkan keadaan yang berlawanan arah — nama batik lebih dikenal daripada sebelumnya, dan penghidupan dari mencanting tidak lebih baik.

Sumber 475

Entri penuh 3 / 3

3 bagian, 7 sumber, satu di antaranya primer.

Penuh bukan berarti selesai. Artinya entri ini melewati ambang yang ditetapkan ensiklopedia ini sebelum ia berbicara panjang.

Bagaimana kedalaman dihitung →

Koreksi pada entri ini

Koreksi 2025-09-09 · COR-0008

Koreksi batasan. Bagian teknik semula menyebut kain bermotif batik yang dicetak mesin sebagai “batik cetak” tanpa keterangan. Ia kini dinyatakan sebagai bukan batik menurut batasan yang dipakai penetapan UNESCO 2009 dan oleh pembatik sendiri, dengan istilah pasarnya dicatat sebagai istilah pasar.

Lanjut membaca